ONNA Roller Blinds


Jumlah

Ketersediaan : Tersedia

Rp 259.000

Beli

Rumah Christiana Gouw di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, ini begitu cantik. Fasadnya saja sudah menarik perhatian. Miring. Itu bukan ilusi optik. Bangunannya memang dibuat miring. Hunian yang menyatu dengan galeri tersebut menjadi ekspresi seni sang pemilik.

---

CHRISTIANA Gouw adalah seorang kolektor seni berkelas. Dia menginginkan konsep hunian loft beraroma industrial yang mengutamakan keterbukaan (openness). Perempuan diketahui yang berkutat dengan dunia seni sejak 1997 itu bukanlah penggemar rumah-rumah klasik atau mewah bergaya Eropa skandinavia

TOTAL: Bagian dalam rumah memiilki desain dengan tema senada.

TOTAL: Bagian dalam rumah memiilki desain dengan tema senada. (Fedrik tarigan/jawa pos)

Ketika berdiskusi dengan arsitek Budi Pradono, keinginan Christiana kemudian bisa diterjemahkan menjadi desain slanted house alias rumah miring tersebut. ”Kami punya taste yang mirip sama. Apalagi, konsep ini unik,” jelas Christiana ketika ditemui pada Senin sore 

Kemiringan rumah yang terdiri atas tiga lantai itu mencapai 70 derajat. Bagian depan rumah yang berdinding kaca seperti ”terlepas” dari bangunan utama, seolah-seolah akan jatuh menimpa jalan. Struktur penyangganya adalah sebuah kerangka baja putih yang kental dengan gaya industrial. ”Kami sengaja membuat kemiringan yang paling ekstrem,” kata Budi.

Apakah bagian dalamnya ikut miring? Jelas tidak. Lantai rumah beliau tentu datar-datar saja. Namun, nuansa miring tetap terasa berkat dinding utama yang miring serta pilar penyangga yang tampak dari dalam. Jendela-jendela, terutama di lantai tiga, mengikuti standard struktur bangunan. Miring juga jadinya. Demikian pula ketika dilihat seseorang yang sedang berenang, pilar-pilar betonnya yang miring begitu memanjakan mata dan imajinasi saking unik dan cantiknya.

Oleh Christiana, rumah tersebut sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai galeri. Di lantai satu, kolam renang serta pantry dan meja bar untuk menyambut para tamu yang berkunjung. ”Ini jadi area reception saat sedang ada pameran seni,” ungkap Christiana.

Dia lantas menunjukkan CG Art Space, galeri yang letaknya di samping rumah. Di galeri itu, baru saja mereka diselenggarakan pameran lukisan tunggal karya Tommy Tanggara selama dua pekan. ”Untuk galeri, saya sendiri yang mendesain,” ucap perempuan kelahiran Pontianak tersebut.

Ketika melintasi tepi kolam renang, pandangan tak bisa lepas dari mezzanine yang tampak seperti ”ruang melayang”. Christiana menjadikannya ruang multifungsi. Kali ini dijadikan dining room. Meja kayu dan kursi berwarna mustard menghidupkan ruangan. Dia kadang juga menaruh sofa, bergantung pada keperluan pribadi

Lantai dua merupakan area privat sang owner. Tangga besi putih menjadi elemen yang cukup kuat di rumah tersebut. Dengan menggunakan material expanded metal yang menghasilkan kesan maskulin, ****** cocok dengan konsep openness yang ingin ditampilkan oleh Christiana. Lantai tersebut berisi master bedroom yang dilengkapi balkon serta kamar mandi yang lapang.

Untuk area privat itu, dinding kaca dilapisi roller-blind minimalis Menikmati suasana di balkon dengan tumbuh-tumbuhan menjadi aktivitas favorit Christiana saat bangun tidur. Nuansa tropis berpadu manis dengan elemen industrial. Sementara itu, kamar mandi beliau seluas 16 meter persegi tersebut didesain ala resor. Terdapat bathtub, shower, kloset, dan wastafel. Christiana menempatkan beberapa art piece di kamar mandi.

Sesuai dengan konsep industrial loft yang diinginkan Christiana, setiap lantai hanya memuat satu ruangan. ”Tangga naik, langsung ruangan, tangga lagi, ruangan lagi,” ucapnya. Lantai tiga difungsikan sebagai lounge terbuka dan ruang tamu. Dari situ, tampak area rooftop. ”Supaya makin banyak spot bersantai untuk tamu-tamu pameran,” ujarnya.

Christiana memang kerap menjamu tamu seniman di rumahnya. Berbeda dengan rumah-rumah kebanyakan, ruangan untuk tamu justru ditempatkan di lantai paling atas. Elemen industrial terasa kuat di ruangan tersebut. Terdapat moving wall semen ekspos untuk memajang lukisan. Dia juga menaruh dua one seater sofa.

Ketika duduk di kursi tersebut, tamu seperti sedang dilayani bartender berkacamata yang selalu ramah pada lingkungan Patung itu adalah buatan perupa Agus Firmansyah. Sebagai seorang pencinta seni, setiap sudut ruangan diberi sentuhan artistik lewat penempatan art piece yang memberikan ”jiwa” pada hunian. Selain patung bertender, ada karya seniman berbentuk Bunga Jeruk, Guntur Timur, serta 20 patung karya Albert Jonathan yang ditempatkan di master bedroom dan kamar mandi.

Interior didominasi kayu jati yang kukuh. Tone cokelat yang hangat berpadu dengan dinding kaca dan semen ekspos khas industrial. Semua furnitur di rumah tersebut didesain sendiri oleh Christiana pribadi Misalnya, meja makan dan nakas di mezzanine, kursi malas bundar di kamar tidur, dan masih banyak yang lainnya